Cerita Dewasa Bermain Dengan Janda Muda
Nama
saya Roni, umur saya 25 tahun. Saat ini
saya sedang belajar dan bekerja. Kisah ini bermula saat saya dan teman saya
sedang berjalan-jalan di kawasan Jakarta yang sudah banyak digemari anak muda.
Saat saya melewati Jalan Sudirman, saya
melihat seorang wanita, saya menghentikan mobil dan kami bertemu.
Wanita
itu bernama Nana, umurnya 19 tahun, tinggi badannya tidak lebih dari 175 dan
ukuran bra 36 C. Akhirnya saya menawarinya tumpangan pulang dan dia pun
menyetujuinya.
Keesokan harinya pukul 10.00. Nana menelponku
lewat ponselku: "Hai Roni ya?" "Siapa itu?" Aku bertanya :
“Nana, kemarin aku tidak sempat
bertemu..” “Oh iya.. Kamu ada di mana Tepat di McDonald's Blok M pukul 11.00
WIB. "Oke" Singkat cerita: Saya langsung berangkat ke Blok M. Sesampainya di sana, kami ngobrol
sebentar dan memutuskan untuk berangkat.
"
pergi kemana?" Aku bertanya, "Terserah kamu..." "Datanglah
ke tempatku sebentar, kamu mau atau tidak?" “Oke,” jawabnya dengan tenang.
“Tidak takut?”, tanyaku “Takut pada apa?” “Bagaimana jika kamu di?” Tapi dia
dengan tenang menjawab: “Kamu bahkan tidak perlu memperkosaku… aku… aku…”
sambil menatapku dan mencubit
pinggangku.
Lalu
saya bertanya: “Benarkah?” Dia menjawab: “Siapa takut? Jadi, silakan datang ke
rumah saya di Tebet yang biasanya tidak
ada Orang. Jadi sampai aku mengundang Nana masuk, kami duduk bersebelahan dan
menggodanya. “Benarkah kamu tidak memiliki fobia pemerkosaan?” Sebaliknya, dia
menjawab: "Kamu ingin memperkosa saya sekarang?" Dia berkata sambil
menjulurkan payudaranya yang montok.
Entah
siapa yang tiba-tiba memulainya, bibir
kami bersentuhan, lalu memainkan lidahnya di mulutku. Tangan kirinya melepas
bajuku dan aku tak mau ketinggalan, aku pun membuka baju ketatnya dan melepas branya. Ciumanku berpindah ke
lehernya dan ke belakang telinganya. “Ah…benar juga… ayolah..”, Nana mulai mengoceh tidak jelas saat lidahku
bergerak ke dada di antara pipinya.
Lidahku
terus meluncur melintasi payudaranya tapi tidak melewati putingnya. Nana
menghela nafas, “ohh.., ohh.., ohh.., aku ingin kamu menyusui..” Tapi aku tidak
memperhatikan dan aku terus bermain… dekat putingnya dan turun ke perutnya. aku
buka perlahan - lahan celana dalamnya yang masih tersisa.
Akhirnya
Nana menarik kepalaku dan memasukkan
payudaranya ke dalam mulutku. “Ayolah, Isep Ron, kamu tidak bisa menyiksaku…”
Akhirnya mulutku menghisap payudara kirinya sementara tangan kananku meremas
payudara kanannya. “Oh… aah… ini… Enak sekali, hisaplah keras-keras kawan,
gigitlah ron, oh..." bujuknya.
Saat
aku menghisap payudaranya, bergantian kiri dan kanan, tanganku meraba
selangkangannya sambil memijat klitorisnya dari
luar celana dalamnya. Nana pun tak sabar, akhirnya dia membuka celanaku
termasuk celana dalamku hingga “adik” yang berdiri tegak dan Nia pun tertegun.
" gila gede banget punya mu.
“Dan
tanpa perintah langsung, Nia memasukkan penisku ke dalam mulut kecilnya, sudah penuh, Nana menjilat
kepala penisku dan terus melakukannya hingga dia menjilat seluruh batangnya. “Ah..
enak sekali Na terus Na” ucapku pun dengan penuh kegembiraan.
Akhirnya
aku proaktif membalikkan tubuhku hingga posisi kami 69. Sambil menjilat bibir vaginanya, Nana
menghela nafas. “Ah…enak sekali, ini…teruskan oowh…” Akhirnya Nia menggeliat
hebat saat lidahku menyentuh
klitorisnya. “Ahh.. ronn..” sambil mulutnya terus menghisap penisku,
pengisap Niapun semakin cepat dan kuat di penisku, sehingga aku merasakan sakit
yang menusuk di penisku. .
“Na,
aku juga mau ...aaahh..” “barengan ya..” Mendengar itu, Nana dengan penuh nafsu
menghisap dan menjilat penisku dan akhirnya.. “Achh.. ach. .”, tidak. . croot..
croot.., 8 kali penisku menyemprotkan air mani ke dalam mulut Nana dan dia
menelan semuanya hingga kami ejakulasi di saat yang bersamaan.
Nanapun akhirnya berbaring di sampingku
setelah menjilati seluruh penisku. “Terima kasih, sudah lama suamiku kabur…”
Nana berkata, “Suamimu mana?” “Entahlah, dia tiba-tiba menghilang setelah saya
melahirkan. " "Apa kamu punya
anak? “Sudah setahun.” Lalu Nana memelukku erat. Lalu dia mencondongkan
kepalanya ke arahku, lalu aku menciumnya pelan di bibir, dia membalas ciuman
itu, namun lama kelamaan ciuman itu
menjadi ciuman penuh nafsu.
Nana
kemudian memegang kemaluanku yang masih terbuka dan meremasnya hingga otomatis
“adikku” berdiri dan langsung ereksi. Nana kemudian naik ke atas tubuhku dan
menjilat seluruh tubuhku dari mulut sampai ujung kaki. “Ach…” aku mengerang
mengikuti irama jilatan di tubuhku.
Nana
lalu menghisap penisku dan dari atas terlihat jelas bagaimana penisku muncul di
mulut kecilnya. "Ah. sst... enak sekali sayang, hisap terus ach.."
Eranganku semakin keras. Lalu aku meletakkan tubuhku di posisi 69 dengan Nana
di atas, lalu aku menjilat vagina Nana dan menjilat vaginanya "Ahh...enak
sekali sayang, teruskan ayo sayang, aku mencintaimu, achh..." desah Nia
sambil berdiri.
Nana
kemudian berbalik dan meraih "adik"ku yang bersiap bertarung, dia
menyesuaikannya agar sesuai dengan saluran vaginanya. Lalu, dia perlahan
menurunkan pantatnya. Jadi penisku perlahan masuk ke lubang vagina nana.
"Aduh...ssst...oh...punyamu gede sekali," bisik Nana. "vaginamu
sempit, enak sekali... ah…” kataku.
Perlahan aku terus mendorong penisku ke
dalam vaginanya yang sempit.
Akhirnya
setelah semuanya beres, Nana mulai menggerakkan pinggulnya ke atas dan ke
bawah, membuat penisku terasa seperti dihisap. Nana berbaring di atasku selama
15 menit sebelum mengerang.
"Aaah....
Kemudian
tubuhnya lemas dan memelukku, namun saat aku mengejar klimaksku sendiri,
aku langsung membalikkan badannya tanpa
mengeluarkan penisku yang ada di dalam vaginanya. Begitu sampai di atasnya,
saya langsung mendorong Nana dari atas terus menerus selama hampir 20 menit
hingga Nana mengalami orgasme ketiganya dalam waktu sesingkat itu.
"Ah. “Kamu lama sekali sayang” desah Nana
sambil terus menggerakkan pinggulnya berputar-putar. “Ahh sayang, sstt, enak
sekali sayang, terus..teruss…” ucapnya dengan suara serak. "Iya, aku juga
ah...enak, enak banget, ah..." Akhirnya setelah mendorong Nana kurang
lebih 40 menit, aku merasa ada sesuatu yang terjadi di penisku serasa mau
keluar.
“Sayang,
aku ingin keluar sayang” “mau di dalam atau diluar sayang?” Saya bilang.
“Sebentar lagi sayang, aku mau keluar lagi ah…” Nana menghela nafas. “didalam
aja sayangku, biar aku lebih puas” desah Nana lagi. “Ahh.. sst.. Sayang aku mau
keluar sayang ahh..” aku tergagap
“Bersama sayang, aku juga ah.. ahh.. oh…” Nana menghela nafas. “Ahh…
sayang..ahh… ssst… oh….” saya sampai. “Aahh” menyemprotkan spermaku sebanyak 9
kali. “Emmhh..” saat itu Nana juga
merasakan orgasme….
Setelah
itu, kami langsung mandi di kamar mandi dan di dalam kamar mandi pun kami
sempat “bermain” lagi sambil saling mencuci pakaian. Setiap kali Nana
tiba-tiba jongkok dan mengulum punyaku,
aku bangkit kembali, berusaha menahan kenikmatan.
Tapi
aku tidak tahan dengan siksaan itu jadi aku duduk di kursi, Nana duduk di
hadapanku dan dia memasukkan kembali penisnya ke dalam vaginanya. "Ya
Tuhan...ahh...ssst...enak sekali sayang ahh..." bisiknya mulai merasakan
permainan itu. Tapi setelah 15 menit aku bosan, aku perlahan mengangkatnya tanpa melepaskan
penisku dan aku menyuruh Nia untuk bangun dan berpegangan di tepi bak mandi,
aku mendorong maju mundur sambil meremas buah dadanya yang bergoyang goyang.
“Ah…
Ya Tuhan, aku mau sampai, yang…” desahnya. “aahh…”, aku merasakan cairan
orgasme Nana kembali membasahi penisku. Karena kondisi Nana yang lemah, saya
memutuskan untuk melepas penis saya dan Nana terus menghisap penis saya hingga
habis.
"Aku
keluar, sayang. ah…”, sambil aku mendorong kepalanya jauh ke dalam
penisku hingga penisku seolah-olah benar-benar masuk ke dalam mulut kecilnya.
Dan saat Nana menghisap penisku, "Ah.. aah.." Akhirnya aku
menyemprotkan seluruh air maniku ke dalam mulut Nana dan melihat Nana menelan semua
air maniku tanpa setetes pun keluar dari mulutnya. Dia bahkan membersihkan
penisku dan menjilat sisanya. sperma. .
Setelah
itu, kami membersihkan diri dan kembali ke kamar dalam keadaan telanjang bulat,
berbaring bersama telanjang, berdekapan, meraba dan ngobrol sebentar. Tanpa
sadar hampir 4 jam kami berada dirumahku. Jadi kami akhirnya berpakaian lalu
saya mengantar Nana kembali ke kosannya di kawasan Blok M dan berjanji akan
menghubungi lagi. Hingga saat itu sampai sekarang kami masih menjalin hubungan
intim secara rutin.


0 comments:
Posting Komentar